Subscribe:

Ads 468x60px

Pages

26 Agu 2012

Serendipity, Sebuah Kebetulan Yang Sangat Indah

  • i

Serendipity sendiri adalah istilah dari bahasa Inggris yang artinya 'kebetulan'. Dikatakan 'kebetulan' bukan sesuatu yang dianggap meremehkan, namun sebuah 'kebetulan' yang tampaknya sudah direncanakan dengan sangat baik oleh-NYA. Seperti yang kurasakan ini...
IPK cemerlang ternyata tak pernah menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan dengan cepat. Di dunia kerja yang keras, persaingan jauh lebih ketat ketimbang modal IPK saja. Dan beginilah aku, prestasi yang selama ini kubanggakan bak selembar kertas yang hanya dikirim-kirimkan ke berbagai perusahaan. Sudah banyak panggilan yang kudatangi, hasilnya... hingga sekarang tak satupun pekerjaan yang bisa kujalani. Aku nyaris putus asa ketika seorang teman mengajakku untuk ikut job fair di sebuah hotel terkenal. Dan apabila ini adalah kesempatan untuk meraih mimpi, tak akan pernah kulewatkan lagi.
Sebuah suara mengejutkanku, "ada yang bisa dibantu?" dengan senyum yang ramah dan manis ia menawarkan bantuannya. Aku memang tak pernah berpengalaman mengikuti job fair. Alhasil di sana aku hanya bengong melihat ke sana kemari dan membaca semua daftar nama perusahaan yang terpampang di depan booth itu. "Ah, enggak. Masih lihat-lihat saja kok," jawabku. Iapun kemudian menyodorkan sebuah lembar kertas, yang isinya posisi kerja di tempat perusahaannya. Setelah kulirik, ah rasanya aku sama sekali tak tertarik. Namun entah mengapa akhirnya aku menyodorkan amplop berisi CV-ku padanya.
Setidaknya hanya itulah hal yang bisa kuingat dari peristiwa setahun lalu. Aku bahkan tak ingat bahwa ternyata Bara yang dulu menyodoriku info lowongan itu. Aku begitu meremehkannya, walaupun ternyata bekerja di sini sangat menyenangkan.
Ngomong-ngomong soal Abimanyu, dialah topik yang ingin kubicarakan. Ia sosok yang sopan, ramah, penuh senyum dan ahh... rasanya ia begitu sempurna untuk kuceritakan. Haha... biarlah saja orang mengira aku cinta buta. Tetapi jatuh cinta kepadanya adalah sebuah kebetulan yang sangat menyenangkan. Sesuatu yang tak pernah kuduga sebelumnya, dan nyatanya memang kami sengaja dipertemukan.
***
"Ta, kamu yang harus mengatur event futsal antar divisi nanti yah. Pak Bambang akan datang lho!" kata Silvia, manajer sekaligus sahabatku. Oh tidak, batinku, kalau Pak Bambang datang artinya semua harus dalam kondisi yang perfect. Dia tak akan suka kalau ada kekurangan di sana sini. Atasanku yang satu itu adalah sang empunya perusahaan ini. Pewaris tahta ketiga yang diberikan turun temurun dari kakeknya. Orangnya sangat cerewet dan minta ini itu. Dan... seketika lamunanku dibuyarkan oleh sosok manis yang kutahu namanya adalah Abi. "Ini daftar pesertanya, tolong disusun dan dirapikan. Kalau kamu belum tahu gimana cara ngaturnya, tanya saja pada Silvia," katanya membuatku terbengong. Ia berbicara cepat, tidak memandangku dan langsung pergi. Huh! Buyarlah semua pujianku kepadanya, ia tak lagi menjadi sosok yang manis dan kukagumi. Ia begitu jutek dan angkuh.
Seperti dugaanku, Pak Bambang memang memeriksa semua detail event kali ini. Mengomentari semuanya dari A sampai Z, bahkan hingga ke sepatu pemain tak lepas dari komentarnya. Namun ternyata usahaku tak sia-sia "Kerja bagus Tita!" katanya memujiku. Apa yang sudah kususun membuatnya puas walau masih diwarnai komentar darinya.
***
Aku terduduk lesu. Masih kuingat peristiwa semalam ketika aku bertengkar hebat dengan kekasihku di telepon. Kuberanikan diri untuk menemuinya hari ini, berharap bahwa permasalahan di antara kami bisa diselesaikan baik-baik dan hubungan kami kembali seperti dulu. "Ngapain kamu di sini?" katanya ketus. Aku memang sengaja pulang lebih awal dan mampir ke kantornya agar ada kesempatan untuk bertemu langsung dengannya. Dan di luar dugaanku, sikapnya membuat nyaliku nyaris mengerut. "Jangan ngobrol di sini, kita pergi saja," sambungnya. Kamipun berkendara dan melanjutkan debat semalam di dalam mobil yang melaju kencang. Aku takut. Tapi hatiku mengatakan ini adalah usaha terakhirku untuk mempertahankan komitmenku dengannya. Komitmen yang telah kuhargai selama setidaknya 3 tahun ini. Aku punya mimpi menikah dengannya. aku sangat mencintainya.
"Turun!" bentaknya. Di dekat sebuah perempatan jalan ia membentak dan menurunkanku. Dengan penuh emosi dan sikap cuek seperti biasanya. Kekasihku ini memang orangnya sangat temperamental. Ini bukan pertama kalinya ia menurunkanku di tengah jalan ketika bertengkar. Aku tak ingat berapa kali ia melakukannya padaku, sampai-sampai rasanya aku telah terbiasa. Dalam hatiku, keesokan hari ia akan menyesal dan datang pagi-pagi dengan membawa permohonan maaf padaku.
Hari itu lain. Hatiku tak berkata begitu. Dan mungkin inilah pertemuan terakhir kami, di mana ia sudah tak ingin lagi melanjutkan hubungan kami. Aku sendiri merasa ini adalah hal yang aneh. Hubungan kami bukanlah hubungan pasangan kekasih yang berjalan normal seperti biasanya. Ia sering bersikap kasar, meninggalkanku dan menganggapku sudah cukup dewasa serta mandiri untuk melakukan berbagai hal. Pikirku, memang ia adalah orang yang sibuk, dan ia bukan tipe pria yang romantis serta inginnya nempel ke mana-mana berdua. Aku menghargai sikapnya itu. Aku sendiri juga bukan tipe wanita yang ingin selalu nempel ke mana-mana dengan kekasihnya (awalnya kupikir begitu, ternyata aku juga ingin diperlakukan manis oleh kekasihku.)
Aku terdiam sejenak melihat mobilnya pergi meninggalkan dan semakin jauh, sampai tak terlihat lagi. Belum terpikir dalam benakku hendak ke mana ini. Akhirnya aku berjalan saja membiarkan kedua kaki ini membawaku. "Mau ke mana? kok kamu di sini?" sebuah suara mengejutkanku. Suara yang kukenal. Itu suara Abi. "Oh, iya aku mau pulang" kataku singkat. "Naiklah. Kau kuantar saja," katanya. Tak berpikir panjang aku naik ke atas motornya. Diboncengnya aku dan kamipun turun di sebuah cafe kecil yang tak begitu ramai. "Yuk kita ke sini dulu, kamu butuh ketenangan tampaknya," katanya lagi.
Aku tak tahu kenapa ia seperti sangat mengerti aku. Aku tak pernah mengenal dirinya. Tak pernah bicara panjang lebar kepadanya. Bahkan menurutku ia adalah sosok pendiam dan angkuh, yang bahkan sekantorpun ia tak mau menyapaku seperti rekan lainnya. Namun hari itu aku bercerita panjang lebar tentang kejadian yang baru saja kualami. Aku tak pernah seterbuka itu tentang kehidupan pribadiku. Tapi rasanya bercerita kepadanya membuatku sangat lega, dan nyaman.
***
"Tita, Abi datang. Sudah ibu suruh masuk dan menunggumu. Cepatlah keluar," kata ibu mengetuk pintu kamarku.
Tak berapa lama aku keluar dan memberikan sambutan hangat dan menggandeng tangan Abi pergi. Sejak hari aku ditinggalkan oleh kekasihku, Abi memberikan perhatian dan kenyamanan yang tak pernah kutemukan di diri orang lain. Di balik sikap pendiamnya, ternyata ia penuh kehangatan dan kasih sayang. Tak pernah ia memperlakukan aku dengan kasar sekalipun kami berbeda pendapat. Kami selalu membahas semua hal dengan sangat menyenangkan. Dengan sopan ia selalu menemani dan mengantarku sampai ke tempat tujuan. Membuatku merasa dilindungi sebagai kekasih, dan seorang wanita. Ia tak pernah meremehkan dan merendahkan aku. Bahkan ia yang selalu memberikan dukungan pada setiap hal yang kulakukan. Yah... kuakui memang ia bukan sosok yang selalu sempurna. Tetapi bagiku ia tetap sempurna. Sesempurna pertemuan kami dulu. Pertemuan yang serba kebetulan dan sangat indah. Sumber

Percayalah Tuhan Tidak Tidur

  • i

"Karena Tuhan tidak tidur. Di saat aku berusaha giat menggapai satu per satu mimpi, aku juga berdoa pada Tuhan, meminta apa saja yang kubutuhkan. Bukankah Tuhan memang melihat segala usaha hamba-hamba-Nya."

Aku seorang wanita berumur 29 tahun yang baru saja putus cinta, putus pekerjaan, dan putus hubungan dengan beberapa penerbit yang menolak naskahku. Selama 29 tahun aku hidup, percayalah, aku sudah kebal dengan banyak hal bertitel penolakan. Dan, itu membuat hidupku menjadi berwarna.
Kau tahu mengapa aku sangat bersemangat dalam menjalani hidup? Karena aku masih punya mimpi. Mimpi itu berupa harapan yang kugantungkan tinggi-tinggi pada langit. Ya, sesederhana itu prinsipku.
Menjadi seorang penulis kenamaan, lalu bertingkat menjadi editor in chief di sebuah penerbitan buku terkemuka, kemudian menikah dan bahagia dengan keluarga kecil. Ah, what a wonderful life, bukan? Tapi, yang perlu kau tahu, harapan itu tinggi, maka diperlukan banyak usaha untuk menggapainya. Dan, aku tengah berusaha untuk menaklukannya.
Berbagai penolakan kuterima dengan lapang. Karena aku yakin, suatu saat aku bisa menjadi seseorang yang kuat dan mendapatkan pengganti yang jauh dari sekadar layak. Dan, kau tahu apa yang kulakukan di tengah gempuran penolakan yang terjadi secara bersamaan tersebut?
Aku berusaha semakin giat. Berusaha memantaskan diri agar terpilih menjadi seorang istri yang taat, entah oleh siapapun nantinya. Berusaha menembus penerbit yang mampu dan mau menerbitkan naskahku dengan membiasakan menulis rutin. Dan, berusaha agar memenuhi syarat kualifikasi menjadi seorang pekerja, meski hanya bagian administrasi. Semuanya bermula dari nol, bukan?
Lalu, masa itu datang dengan cepat. Masa 'pembalasan', dimana aku mendapatkan buah dari ketiga penolakanku sekaligus. Masa dimana usahaku selama dua tahun memantaskan diri berbuah manis.
Aku dilamar seorang wartawan sebuah media massa terkenal yang juga mengantarkanku pada satu perusahaan penerbitan buku. Di sana, naskahku tak hanya dicetak sekali-dua, tetapi juga hingga cetakan kelima dalam kurun waktu lima bulan. Lalu pekerjaanku? Aku menikmati hidupku menjadi seorang penulis buku sekaligus editor freelance di sebuah penerbit buku. Ya, usahaku berbuah sangat manis.
Kau tahu mengapa? Karena Tuhan tidak tidur. Di saat aku berusaha giat menggapai satu persatu mimpi, aku juga berdoa pada Tuhan, meminta apa saja yang kubutuhkan. Bukankah Tuhan memang melihat segala usaha hamba-Nya?
Maka, jangan mudah putus asa ketika berbagai penolakan datang pada hidupmu. Karena, Tuhan melihatmu, melihat segala aksimu. Percayalah, Tuhan tidak tidur.Sumber

Aku Bersyukur Untuk...

  • i

"Terima kasih Tuhan atas segala karunia-Mu. terima kasih atas segala hal baik yang kau limpahkan pada kami. Begitu juga hal buruk yang Kau limpahkan untuk membuat kami menjadi baik"

Banyak hal di dunia ini yang sebenarnya layak untuk disyukuri. Sayangnya, tak sedikit orang lupa untuk mengucapnya. Padahal, jika Tuhan bisa menuntut, maka hampir semua penduduk bumi akan mendapatkan asupan oksigen yang terbatas. Jika sedikit saja kita melihat sekitar, maka akan ada satu kepuasan dan kalimat syukur terucap dari mulut.
Seperti halnya mensyukuri napas yang diberikan Tuhan kepada kita. Ada berapa banyak oksigen yang kita hirup dengan cuma-cuma? Itu adalah tanda bahwa kita masih hidup. Masih bisa bernapas tanpa bayar. Lalu, mengapa ada banyak nyawa yang hilang begitu saja hanya karena frustasi dengan hidup? Tak percayakah dengan janji Tuhan yang menyebutkan bahwa Ia tak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya?
Hal lain yang sering kita lupakan adalah betapa kita sangat sombong dengan keadaan yang sementara. Sering lupa dengan siapa pencipta diri kita. Mendahulukan ego tanpa berpikir bahwa ada Tuhan yang menciptakan dan membuat kita menjadi seperti kini. Lupakah kita dengan Tuhan, sehingga menjadi begitu angkuh dengan segala hal?
Sahabat, Tuhan menciptakan kita bukan tanpa maksud. Satu maksud Tuhan adalah agar hamba-Nya bersyukur dan selalu ingat pada Sang Pencipta. Lalu, mengapa kita sering lalai? Tak bisakah kita mendahulukan Tuhan dibandingkan dengan aktivitas duniawi? Ia penciptamu, mengapa dinomor-duakan? Tak ingatkah dengan siksa-Nya yang pedih?
Aceh. Satu contoh kecil bahwa Tuhan murka. Jika demikian, apa yang kita lakukan? Meminta maaf?
Sahabat, Tuhan sangat mudah memaafkan hamba-Nya yang taat. Ia juga memberikan banyak janji bagi hamba-Nya. Tetapi mengapa kita sering tak mengindahkan janji-Nya? Tak ingatkah bahwa surga adalah tempat yang kekal di akhirat nanti?
Bagi Tuhan, memaafkan adalah satu contoh yang mudah Ia lakukan. Tapi mengapa tidak dengan kita? Dimana sifat pemaaf jika kita adalah makhluk sosial? Sedikit dekat dengan sifat pemaaf, adalah ungkapan terima kasih. Sudahkah kita mengucap terima kasih pada orang-orang terdekat, bahkan keluarga, teman, dan kerabat?
Aku tidak sedang menggurui, karena aku juga tengah berbenah. Aku tahu, menjadi baik itu sulit. Banyak usaha yang harus dilakukan. Ibarat sebuah medali emas, memperolehnya dibutuhkan banyak usaha. Kadang jatuh, terpeleset, bahkan terjerembab. Kadang pula kita lupa dengan tujuan menjadi baik, sehingga dibelokkan pada hal-hal yang membuat silau indra.
Terima kasih Tuhan atas segala karunia-Mu. Terima kasih atas segala hal baik yang kau limpahkan pada kami. Begitu juga hal buruk yang Kau limpahkan untuk membuat kami menjadi baik. Sumber

Sesuap Nasi Untuk Ibu

  • i

Sebuah kisah mengharukan hadir dari seorang wanita yang mengaku telah menelantarkan anaknya sejak lahir hingga kini. Semoga menjadi bahan renungan untuk kita semua.
---
Dikisahkan saat itu, Ana melahirkan bayi perempuan mungil hasil dari hubungan gelapnya dengan sang kekasih. Mengaku malu menanggung aib, ia membuang bayi mungilnya di dekat tempat sampah. Dengan balutan selimut seadanya, Ana meletakkan bayinya di depan tempat sampah. Dengan harapan, bayinya bisa ditemukan oleh orang yang tengah lewat dan dirawat dengan layak.
---
Itu kejadian dua puluh tiga tahun lalu. Kini, bayi mungilnya telah tumbuh dewasa. Bahkan, tanpa sepengetahuan bayi mungilnya, Ana terus memantau perkembangannya. Kini, takdir berbalik. Ana yang dulunya selalu tampil mewah karena berasal dari keluarga terpandang, kini harus puas dengan kehidupan serba cukup. Sepetak tanah dengan posisi dekat kandang ayam adalah persinggahannya kini.
Hidup serba cukup bahkan nyaris di bawah garis kemiskinan membuat Ana harus pandai mencari akal agar bisa bertahan hidup. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menjual pakaian-pakaian bekas yang ia kumpulkan dari memulung. Hingga satu saat tak terduga, Ana terkejut melihat gadis mungilnya menghampirinya seraya memeluk erat.
Kalian tahu apa yang diucapkan gadis mungilnya itu?
"Akhirnya, aku berhasil menemukan ibu. Pulanglah bersamaku, Bu, rumahku lebih layak huni. Ibu tak perlu bekerja seperti ini untuk mencari sesuap nasi."
Tanpa sepengetahuan Ana, bayi mungilnya dulu ditemukan oleh tetangganya yang kemudian pindah ke Semarang. Hingga pendidikan Rena, bayi mungil itu, selesai dan mendapatkan pekerjaan yang layak, ia berusaha mencari sosok ibu kandungnya. Meski dibuang, namun ikatan batin antara keduanya masih terjalin.
---
Bagi Rena, sosok ibu kandungnya tak tergantikan. Bahkan, meski telah dibuang karena kehadirannya tak diharapkan, ia yakin, cinta ibu untuknya sepanjang masa Sumber



Mengapa Kamu Mencintaiku?

  • i

Pernahkah bertanya pada kekasih atau suami, "kenapa kamu mencintaiku?" Setidaknya 3 dari 5 orang pernah menanyakan hal ini pada kekasih atau suaminya. Dan, jawaban yang diperoleh tak selamanya romantis, kan? Bahkan sebagian besar pria malah meresponnya dengan gemas, "tak cukupkah kehadiranku menjawabnya?"
Berikut adalah sebuah kisah yang dititipkan oleh para pria tentang cinta mereka...
Suatu hari, seorang pasangan kekasih sedang berjalan-jalan di taman. Dipetiknya sebuah bunga yang cantik oleh si pria dan diberikan kepada kekasihnya, "ini untukmu sayang." Di luar dugaan, kekasihnya justru terdiam. Tak berapa lama kemudian ia bertanya pada kekasihnya?
Wanita: Kenapa kau menyukaiku? kenapa kau mencintaiku?
Pria: Aku juga tidak tahu alasannya. Tetapi aku sangat menyukaimu, aku mencintaimu, sayang.
Wanita: Kamu jahat. Kamu bahkan tidak bisa menyebutkan satu alasanpun mengapa kau menyukai aku. Kalau suatu saat nanti ada yang lebih cantik dari aku pasti kau akan meninggalkan aku. Bagaimana bisa kau bilang kau mencintaiku jika kau tak tahu alasannya?
Pria: Aku benar-benar tidak tahu alasannya, sayang. Tetapi, bukankah perhatian, kasih sayang dan kehadiranku di hidupmu sudah menjadi bukti cintaku?
Wanita: Bukti apa? Semua tidak membuktikan apapun. Aku hanya butuh alasan, kenapa kamu bisa menyukaiku? Kenapa kamu mencintaiku?
Pria: Baiklah, akan kucoba cari alasannya. Eum... karena kamu cantik, kamu punya suara yang indah, kulitmu halus, rambutmu lembut... Cukupkah alasan itu?
Kekasihnya kemudian mengangguk, dan menerima bunga itu dengan senang hati.
***
Beberapa hari kemudian, sebuah kecelakaan menimpa wanita tersebut. Ia harus kehilangan rambutnya yang panjang dan lembut karena terjepit dan terpaksa harus dipotong. Ia juga harus kehilangan suara dalam beberapa waktu karena pita suaranya terbentur keras. Kulitnya yang dulu halus mulus kini terpapar beberapa jahitan. Ia terbaring tak berdaya.
Di sampingnya ada secarik surat. Iapun membacanya.
"Kekasihku,
Karena suaramu tak lagi semerdu dulu, bagaimana aku bisa mencintaimu?
Dan karena rambutmu kini sudah tak panjang dan lembut lagi, aku tak bisa membelainya. Aku juga tak bisa mencintaimu.
Apalagi kini banyak jahitan di wajahmu yang dulu mulus.

Jika benar cinta itu butuh alasan, kurasa aku benar-benar tak bisa mencintaimu lagi sekarang.
Tetapi....
Cintaku bukan cinta yang palsu. 
Cintaku kepadamu tulus. Aku menyukai dirimu yang apa adanya. Aku tidak jatuh cinta karena kau punya suara yang merdu, rambut yang indah serta kulit yang mulus. Aku mencintaimu tanpa alasan apapun.
Sampai kapanpun, aku tetap akan mencintaimu. Sekalipun nanti rambut putihmu mulai tumbuh, kulitmu mulai menua dan keriput, aku selalu mencintaimu.
Menikahlah denganku..."
Cinta tak pernah membutuhkan alasan. Ia juga akan tetap hadir secara misterius. Datang tanpa pernah diduga sebelumnya. Percayalah akan kekuatan cinta, karena kau tak pernah tahu seberapa besar ia akan membuat hidupmu bahagia. Sumber

Kisah Si Pohon Apel

  • i

Sadarilah... kita seringkali melupakan hal-hal yang penting di dalam hidup kita. Dan kemudian menyesalinya saat semua sudah terlambat...
Dahulu kala, di sebuah padang hiduplah sebuah pohon apel yang rindang dan banyak buahnya. Setiap hari, ada seorang anak kecil yang senang bermain di bawah pohon tersebut. Ia memanjat pohon tersebut, duduk di atas batang yang besar dan kuat, makan apel dan bahkan tidur di bawah rindangnya pohon. Ia sangat mencintai pohon itu, demikian pula sebaliknya sang pohon. Ia tak pernah merasa keberatan saat si anak kecil bermain di sekitarnya. Ia bahkan seringkali mengajaknya bercanda dan bercerita.
Waktupun berlalu, si anak telah beranjak dewasa. Suatu hari ia mengunjungi pohon apel dengan wajah yang sedih.
"Apel, aku sedih," katanya.
"Mengapa kau sedih wahai anakku?"
"Aku tak punya mainan, aku ingin membeli mainan tapi aku tidak punya uang," katanya lagi.
Melihat si anak menangis, pohon apelpun iba. Dijatuhkannya beberapa buah apel dari tubuhnya. "Aku tak punya mainan untuk kuberikan padamu. Tetapi, kau bisa menjual apel-apel ini agar kau punya uang dan bisa membeli mainan," kata si pohon apel.
Bergegas dengan wajah bahagia dan penuh semangat, anak kecil itu memungut semua apel yang jatuh dan dijualnya ke pasar. Iapun berhasil membeli mainan yang didambakannya.
Sayangnya, ia tak pernah kembali... dan bersedihlah si pohon apel.
***
Si anak telah beranjak dewasa. Ia telah memiliki keluarga dan anak-anaknya. Suatu kali, ia lewat di padang. Dan pohon apel menyapanya, "hei, kemarilah. Ayo bermain denganku," katanya.
"Ah, aku tak punya waktu bermain denganmu. Aku punya anak dan keluarga yang harus kuberi makan dan tempat tinggal. Tetapi aku tak punya cukup uang untuk membeli rumah," keluhnya.
Tak tega melihat si anak yang tak punya rumah, pohon apelpun berkata, "Nak, aku tak bisa memberikanmu sebuah rumah. Tetapi, kau bisa memotong ranting-ranting kokohku ini. Bangunlah rumah dengan rantingku agar keluarga dan anak-anakmu tak lagi kedinginan, kehujanan dan kepanasan." kata si pohon apel.
Kegirangan mendengar ide pohon apel, si anak mengambil gergaji dan memotong ranting-ranting pohon apel dengan penuh semangat.
Sayangnya, ia tak kembali lagi... dan pohon apelpun bersedih.
***
Beberapa tahun kemudian, si anak kembali dengan wajah yang letih dan lesu.
"Hai, kemarilah. Ayo bermain denganku," sambut pohon apel kegirangan melihat si anak kembali.
"Tidak, aku tak punya waktu bermain denganmu. Aku sudah tua. Aku merasa jenuh. Aku ingin menghibur diriku dan berlayar di samudera luas. Bisakah kau memberikanku sebuah kapal yang besar?" tanya si anak.
"Hmm... aku tak bisa memberikanmu kapal yang besar. Tetapi, kau boleh memotong batang pohonku dan membuatnya menjadi kapal," kata pohon apel dengan tulus.
Demikianlah si anak memotong batang pohon apel yang besar. Mengubahnya menjadi kapal dan pergi berlayar. Ia meninggalkan pohon apel yang kini tinggal akar yang lemah.
Pohon apelpun bersedih dan berdoa agar si anak dapat kembali lagi.
***
Benar dugaan si pohon apel, suatu hari, si anak kembali mengunjunginya. Namun ia sudah sangat tua dan lemah. Ia terlihat sangat lelah.
"Hai nak, kemarilah. Aku sudah tak punya apa-apa yang bisa kuberikan padamu. Tak ada buah apel, tak ada ranting atau batang pohonku," katanya.
"Tidak, aku tak butuh apelmu. Gigiku tak lagi kuat untuk mengigitnya. Aku juga tak butuh rantingmu, tubuhku terlalu lemah untuk memanjatnya," kata si anak.
"Lalu apa yang kau butuhkan dariku? Buahku sudah kau ambil, rantingku sudah kuberikan, bahkan batangku sudah kau jadikan kapal. Kini aku tinggal akar yang lemah dan tua. Aku sudah tak berdaya," kata pohon apel.
Si anak kecil berlutut dan menangis di dekat akar tua itu. "Maafkan aku, aku telah membuatmu nyaris mati dan tak berdaya. Aku sudah merampas semua milikmu dan malah seringkali pergi meninggalkanmu. Kini, ijinkan aku berbaring di sampingmu. Aku terlalu lelah, dan aku hanya butuh sebuah tempat untuk beristirahat, terakhir kalinya."
"Kemarilah nak, aku akan memberikanmu tempat beristirahat yang tenang sepanjang sisa hidupmu..." kata pohon apel sambil tersenyum bijaksana.
***
Pohon apel di sini mengingatkan kita pada orang tua. Yang ketika masih kecil mengajak kita bermain, memberi makan, dan memanjakan. Namun, ketika kita dewasa, kita seringkali melupakannya. Kita banyak meminta, banyak menuntut, dan hanya datang saat kita punya masalah saja.
Jangan biarkan orang tua kita hidup bagaikan pohon apel yang tinggal akarnya saja. Buatlah orang tua Anda menjadi pohon apel yang subur dan tumbuh sehat hingga masa tuanya.
Sampai menjadi pohon apel yang berbahagia. Sumber

Ayah, Apakah Ini Ayah?

  • i

Seorang pria tua yang usianya sudah menginjak 85 tahun duduk di tepi kolam ditemani anaknya, yang usianya 42 tahun.
Ia sangat bangga pada anaknya yang sukses itu. Sekalipun ia tahu bahwa anaknya tak pernah punya banyak waktu untuknya kini. Memecah keheningan, sang ayah bertanya pada anaknya...
"Nak, ikan apakah itu? Warnanya cantik sekali,"
"Ikan koi, ayah. Aku membawanya dari Jepang," jawab si anak.
Merekapun kembali diam. Beberapa menit kemudian sang ayah bertanya lagi.
"Nak, ikan apakah itu? Warnanya cantik sekali,"
"Kan aku sudah bilang tadi. Ini ikan koi, aku membawanya dari Jepang, kemarin," jawab si anak ketus.
Ayahnya mengangguk-angguk dan mengagumi ikan-ikan yang berlarian di kolam tersebut.
Selang beberapa menit kemudian, ia kembali bertanya.
"Nak, ikan apakah itu? Warnanya cantik sekali,"
Dengan geram, si anak tetap fokus pada iPad yang dipegang di tangannya. Tanpa menoleh pada si ayah ia menjawab ketus, "itu namanya ikan koi, yah. Ikan koi!"
Ayahnya tersenyum sambil terus mengagumi ikan-ikan indah tersebut.
Dan untuk kesekian kalinya sang ayah bertanya pada anaknya.
"Nak, ikan apakah itu? Warnanya cantik sekali,"
Si anak langsung meletakkan iPad di genggamannya. "Ayah, kenapa sih ayah menanyakan hal yang sama berulang-ulang? Bukankah aku sudah bilang ini adalah ikan koi. Kenapa ayah nggak ngerti juga?"
Ayahnya terdiam. Dengan gerakan yang sangat lambat ia mengambil dompet di sakunya. Mengeluarkan sebuah foto masa mudanya. Ketika ia pergi memancing dengan anaknya di sebuah danau dekat rumah.
"Ingatkah kau akan foto ini nak? Saat itu kau masih kecil. Rasa keingintahuanmu sangat besar. Setiap kali ayah mendapat ikan, kau akan bertanya pada ayah 'ikan apakah itu, ayah?' dan ayah akan menjawabnya dengan penuh kesabaran. Tak hanya sekali saja pertanyaan itu keluar dari mulut kecilmu. Kau akan mengulangi sebuah pertanyaan sebanyak 25 kali jika kau sangat ingin tahu. Dan ayah tetap menjawabnya dengan penuh kesabaran. Tetapi, mengapa kini ayah baru bertanya 4 kali saja, kau sudah marah?" tanyanya sambil meneteskan air mata.
***
Kejadian ini mungkin pernah dirasakan oleh kita juga. Saat kondisi orang tua sudah mulai menua. Pertanyaan-pertanyaan atau cerita-cerita yang sudah pernah diucapkan akan terus menerus diucapkan. Beliau mungkin tidak ingat, atau hanya terlalu bersemangat membahas sebuah topik. Dan untuk itulah, kita yang dulu juga pernah menanyakan hal berulang-ulang di saat masih anak-anak, hendaknya bersikap sama sabarnya. Menjawab semua pertanyaan yang sama dengan hati ikhlas. Mendengarkan cerita yang sama terus menerus bak belum pernah mendengar sebelumnya.
Setidaknya bahagia orang tua itu sederhana, didengarkan dengan ikhlas. Sumber

Kisah 4 Orang Istri Saudagar Kaya

  • i

Cinta sejati itu adalah cinta yang tulus dan mau berkorban untuk orang yang dicintainya...
Alkisah pada suatu waktu, hiduplah seorang saudagar kaya yang hartanya berlimpah. Ia dikelilingi oleh empat orang istri yang cantik jelita.
Istri keempat adalah istri yang paling dicintai dan disayanginya. Ia sangat cantik dan usianya paling muda. Ia memanjakan istri keempat dengan harta dan kemewahan luar biasa. Bahkan, ia membangun istana emas dan menghadiahinya dengan emas perhiasan gemerlap. Kecantikan istrinya membuat saudagar ini tak pernah mau jauh darinya.
Istri ketiga adalah istri yang juga disayanginya. Ia sosok yang rupawan sehingga saudagar tersebut selalu bangga mengenalkannya pada teman-temannya.
Istri kedua adalah istri yang sangat cerdas dan sabar. Saudagar kaya selalu mencari istri keduanya apabila ia memiliki masalah yang ingin dipecahkannya.
Sedangkan istri pertama, usianya sudah tua. Sebaya dengan saudagar kaya. Ia adalah istri yang sangat setia, dan sangat mencintai suaminya. Ia mengatur, menyediakan serta melayani semua kebutuhan suami dan istri-istri mudanya. Ia memastikan semuanya tak pernah kekurangan dan selalu hidup nyaman. Sayangnya, saudagar kaya tidak begitu memperhatikan dan menyayanginya.
Suatu hari, saudagar kaya merasakan tubuhnya sakit luar biasa. Dadanya sesak, sehingga bernafas saja ia kesulitan. Ia sadar, usianya mungkin sudah tak lama lagi. Seketika ia merasa takut, bahwa saat ia mati nanti ia akan sendiri dan kesepian. Iapun memanggil istrinya satu per satu, mulai dari yang paling dicintainya.
Ia memanggil istri keempat, istri yang paling dicintainya...
"Wahai istri keempatku, kau adalah istri yang paling kucintai di antara istri-istri lainnya. Kumanjakan kau dengan istana megah dari emas, baju-baju dan perhiasan gemerlap. Sekarang, aku akan mati. Maukah kau menemaniku agar aku tak kesepian nanti?" tanyanya kepada istri keempat.
"Tidak! Aku masih muda dan cantik. Aku punya semua harta benda yang gemerlap. Tentu saja aku akan mencari pria lain untuk menikahiku," jawabnya lalu pergi meninggalkan saudagar kaya yang terluka hatinya.
Iapun memanggil istri ketiga, istri yang sangat disayanginya...
"Wahai istri ketigaku, kau adalah istri yang kubanggakan dan kusayangi. Aku selalu membawamu ke manapun aku pergi. Memamerkan dan mengenalkanmu kepada semua relasiku. Maka, apabila aku mati, maukah kau menemaniku agar aku tak kesepian nanti?"
Jawab istri ketiga, "tentu saja tidak! Aku sudah banyak mengenal pria-pria tampan dan kaya di hidupku. Dan apabila kau mati, mereka dengan senang hati akan menikahiku. Aku tak ingin mati muda."
Sekali lagi, terlukalah hati saudagar kaya.
Iapun memanggil istri kedua. Berharap istri yang cerdas dan selalu punya solusi atas masalahnya ini, mau dengan bijak membantunya.
"Wahai istri keduaku, kau adalah istri yang sangat cerdas dan selalu punya solusi atas masalahku. Maka apabila aku mati hari ini, maukah kau menemaniku agar aku tak kesepian nanti?"
Istri kedua berpikir sejenak. Tampak di mata saudagar kaya bahwa ia sangat berharap istrinya ini dapat memberikan solusi yang membuatnya bahagia. Namun, istri kedua menjawab, "maaf suamiku. Setelah kupertimbangkan, aku hanya bisa membantu mengatur pemakamanmu dengan layak. Aku akan membuat patung agar dapat mengenangmu kelak. Hanya itu yang bisa kulakukan, tak ada hal lainnya," kata istri kedua.
Hati saudagar kayapun semakin berkeping-keping. Habis sudah air matanya menangisi diri sendiri. Ketiga istri yang dicintainya tak mau menemani di alam baka. Padahal, ia selalu memanjakan ketiganya dengan harta dan cinta berlimpah.
Kemudian, tanpa diminta, datanglah istri pertama. "Suamiku... aku mau menemanimu hingga akhir hayatmu. Akan kujaga dan kurawat kau baik-baik di alam baka. Seperti ketika kau masih hidup di dunia fana," katanya lembut.
Saudagar kayapun menangis terharu. Dipeluknya istri pertama yang telah dilupakannya. Istri yang paling setia dan cantik hatinya. Istri yang bijaksana dan mau selalu memahami suaminya. Bahkan saat ia tak memanjakannya dengan harta dan kasih sayang, ia tetap mau berkorban untuk suaminya.
"Maafkan aku istriku, aku telah berdosa padamu..." Sumber

Satu Detik Yang Tersisa

  • i

"Tak tahukah kalian bahwa satu detik saja pasien kritis kehilangan nafas, itu berarti fatal bagi kehidupannya? Satu detik yang tersisa itu berguna."

 Apa yang akan kamu lakukan dalam satu detik? Bagi sebagian besar orang, satu detik adalah waktu yang tidak berguna. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang kerap kali menyepelekan arti hidup dalam satu detik. Padahal, jika kita lihat kembali, ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam waktu yang sangat sempit tersebut.
Satu detik memang terlalu sedikit bagi sebagian besar diri kita. Tapi, tahukah kalian bahwa satu detik sangat berharga bagi penderita penyakit kritis yang tengah koma? Sangat berarti bagi ibu hamil yang tengah berjuang melahirkan sang bayi? Berarti bagi pertolongan dokter pada pasien-pasien kritis. Satu detik yang tersisa.
Dalam hidup, satu detik memang remeh. Tetapi, lihatlah, dalam satu detik itu, apa yang telah kau perbuat? Tak tahukah kalian bahwa satu detik saja pasien kritis kehilangan napas, itu berarti fatal bagi kehidupannya? Satu detik yang tersisa itu berguna.
Semakin dewasa, tak sedikit orang yang tengah berusaha menghilangkan nyawa berharga mereka demi rasa frustasi. Dan, itu hanya satu detik. Bayangkan saja, betapa berkebalikannya manusia. Di saat banyak orang tengah terkapar membutuhkan pertolongan untuk kembali hidup dalam waktu yang relatif singkat, di sisi lain ada orang yang tengah berusaha untuk mengakhiri hidup.
Tuhan memberikan kesempatan hidup hanya sekali. Tujuannya satu, menggunakannya dengan maksimal dengan kegiatan yang bermanfaat. Tak tahukah kalian bahwa nyawa yang ditiupkan padamu adalah satu bentuk amanah yang nantinya harus dipertanggunjawabkan?
Sahabat, apa yang telah kau perbuat hingga hari ini? Bergunakah mereka semua? Mari, renungkan sejenak tentang arti hidup. Agar tahu maksud Tuhan yang telah memberikan hidup bagi kita. Sumber

24 Agu 2012

Belajar dari Ratusan Kegagalan

  • i

Seorang yang sukses selain memiliki jiwa optimistis, juga hati yang tegar dan teguh. Ia bisa melihat gelas yang berisi separo sebagai sebuah kesempatan untuk berkembang. Di sisi lain ia juga berkeyakinan bahwa kegagalan yang beruntun merupakan kawah candradimuka untuk belajar lebih banyak. Hal itulah yang ditunjukkan oleh Thomas Alva Edison, salah seorang penemu jempolan, melalui cerita berikut. Kita tahu Thomas Alfa Edison merupakan penemu bola lampu. Namun ia dikenal juga sebagai penemu gramafone dan kamera gambar bergerak. Ia memegang 1.093 paten di AS atas namanya. Hal ini menempatkan dia sebagai penemu paling produktif nomer empat sepanjang sejarah.
Namun, semua penemuan itu tak diperolehnya dengan kemudahan. Saat menemukan lampu pijar, ia telah mencoba 2.000 bahan yang berbeda hanya untuk menemukan filamen. Ketika ia belum menemukan bahan yang memuaskan, pembantunya selalu komplain. "Semua pekerjaan kita menjadi sia-sia. Kita tak mempelajari apa-apa darinya."
Apa jawab Edison?
Dengan percaya diri ia menukas, "Kita memang telah menghabiskan banyak waktu dan kita telah belajar banyak. Kita jadi tahu sekarang, ada 2.000 elemen yang tidak bisa kita gunakan sebagai salah satu bahan bola lampu."
Begitulah, cara pandang seseorang mempengaruhi kesuksesan. Bagaimana dengan Anda? Sumber

Lonceng-lonceng Kuil

  • i

Sebuah kuil dibangun di suatu pulau, tiga kilometer jauhnya dari pantai. Dalam kuil itu terdapat seribu lonceng. Lonceng-lonceng yang besar, lonceng-lonceng yang kecil, semuanya dibuat oleh pengrajin-pengrajin terbaik di dunia. Setiap kali angin bertiup atau taufan menderu, semua lonceng kuil serentak berbunyi dan secara terpadu membangun sebuah simfoni. Hati setiap orang yang mendengarkannya terpesona. Namun, selama berabad-abad pulau itu tenggelam di dalam laut; demikian juga kuil bersama dengan lonceng-loncengnya.
Menurut cerita turun-temurun, lonceng-lonceng itu masih terus berbunyi, tanpa henti, dan dapat didengar oleh setiap orang yang mendengarkannya dengan penuh perhatian. Tergerak oleh cerita ini, seorang pemuda menempuh perjalanan sejauh beribu-ribu kilometer. Tekadnya telah bulat untuk mendengarkan bunyi lonceng-lonceng itu.

Berhari-hari ia duduk di pantai, berhadapan dengan tempat kuil itu pernah berdiri, dan mendengarkan, mendengarkan dengan penuh perhatian. Akan tetapi yang didengarnya hanyalah suara gelombang laut yang memecah di tepi pantai. Ia berusaha mati-matian untuk menyisihkan suara gelombang itu supaya dapat mendengar bunyi lonceng. Toh sia-sia. Suara laut rupanya memenuhi alam raya.
Ia bertahan sampai berminggu-minggu. Ketika semangatnya mengendur, ia mendengarkan orang tua-tua di kampung. Dengan terharu mereka menceritakan kisah seribu lonceng dan kisah tentang mereka yang telah mendengarnya. Dengan demikian ia semakin yakin bahwa kisah itu memang benar. Semangatnya berkobar lagi, apabila mendengar kata-kata mereka ... tetapi kemudian ia kecewa lagi, kalau usahanya selama berminggu-minggu ternyata tidak menghasilkan apa-apa.
Akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri usahanya. Barangkali ia tidak ditakdirkan menjadi salah seorang yang beruntung dapat mendengar bunyi lonceng-lonceng kuil itu. Mungkin juga legenda itu hanya omong kosong saja. Lebih baik pulang saja dan mengakui kegagalan, demikian pikirnya.

Pada hari terakhir ia duduk di pantai pada tempat yang paling disayanginya. Ia berpamitan kepada laut, langit, angin serta pohon-pohon kelapa. Ia berbaring di atas pasir, memandang langit, mendengarkan suara laut. Pada hari itu ia tidak berusaha menutup telinganya terhadap suara laut, melainkan menyerahkan dirinya sendiri kepadanya. Ia pun menemukan suara yang lembut dan menyegarkan di dalam gelora gelombang laut. Segera ia begitu tenggelam dalam suara itu, sehingga hampir tidak menyadari dirinya lagi. Begitu dalam keheningan yang ditimbulkan suara gelombang dalam hatinya.
Di dasar keheningan itu, ia mendengarnya! Dentang bunyi satu lonceng disambut oleh yang lain, oleh yang lain lagi dan oleh yang lain lagi ... dan akhirnya seribu lonceng dari kuil itu berdentangan dengan satu melodi yang agung berpadu. Dalam hatinya meluap rasa kagum dan gembira.
Jika engkau ingin mendengar lonceng-lonceng kuil, dengarkanlah suara laut.
Jika engkau ingin melihat Tuhan, pandanglah ciptaan dengan penuh perhatian. Jangan menolaknya, jangan memikirkannya. Pandanglah saja. Sumber

Cerita Seorang Gadis Buta

  • i

Hati dan mata sering tidak seirama. Ketika mata tak bisa melihat, segala kebaikan orang akan berujung janji di hati. Akan tetapi, ketika mata sudah melihat, janji di hati tadi bisa diingkari. Seperti kisah berikut.

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya karena ia buta. Ia juga membenci setiap orang kecuali pacarnya. Sang pacar selalu berada di sisinya setiap saat. Oleh karenanya itu, sang gadis berkata bahwa jika ia bisa melihat dunia, ia akan menikahi sang pacar.
Suatu hari, seseorang mendonorkan sepasang mata untuk gadis itu. Kemudian ia pun bisa melihat dunia, termasuk sang pacar. Lalu pacarnya bertanya, "Sekarang, kamu sudah bisa melihat dunia. Maukah kamu menikah denganku?”
Gadis itu amat terguncang ketika melihat sang pacar ternyata buta juga. Ia pun menolak menikah dengan sang pacar. Dengan berlinang air mata, sang pacar pergi. Beberapa hari kemudian ia mengirim surat kepada mantan kekasihnya tadi dan berucap:
“Peliharalah mataku sayang.” (*) Sumber

23 Agu 2012

Satu Hari di Hari Raya (2)

  • i

Tidore, 19 Agustus 2012
Kriiing….kriiing…kriiiing….
==================
Suara alarm membangunkanku dan itu berarti sudah jam 4:30 pagi. Kulihat pak Budi dan Pak Mul masih terlelap, karena memang masih terlalu pagi. Tahun ini hampir semua umat Islam baik NU maupun Muhamadiyah merayakan hari raya idul Fitri bersamaan tanpa ada perbedaan waktu walaupun di awal Ramadhan ada perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan.  Alhamdulillah, akhirnya setelah beberapa tahun akhirnya umat Islam di Indonesia khususnya dapat melaksanakan sholat Id secara bersamaan.
Seperti biasanya aku bangun pagi, sholat subuh dan persiapan untuk sholat Id di masjid terdekat. Dari pengeras suara di masjid diumumkan kepada seluruh jamaah bahwa sholat Id dimulai pada pukul 07:30 waktu setempat.  Saya, Pak Yayan dan beberapa teman-teman sudah berangkat ke masjid pukul 06;30, karena sudah menjadi kebiasaan kita di Jawa untuk berangkat lebih pagi untuk sholat id.  Dalam perjalanan ke masjid suasana di jalanan sangat sepi bahkan belum ada warga local yang berangkat ke masjid untuk sholat Id. Hanya kurang dari sepuluh menit kami telah sampai di masjid, karena memang jarak mes ke masjid cukup dekat dan setiap hari kita lewati saat berangkat ke lokasi. 
Biasanya saat Idul Fitri masjid-masjid selalu mengumandangkan takbir dan tahmid dari selepas sholat magrib hingga sesaat sebelum sholat id dimulai. Dan panitia sholat id biasanya datang lebih awal. Tapi di sini sangat berbeda, sesampainya di masjid belum ada satupun jamaah yang datang bahkan panitia atau takmir masjid belum nampak.. Dan hanya terdengar sayup-sayup takbir dan tahmid dari kaset atau CD yang diputar seelepas sholat subuh. Pak Budi dan beberapa teman mengambil posisi untuk duduk di shaf terdepan Setelah menunggu hampir satu jam akhirnya para jamaah pun mulai berdatangan.
Panitia, khatib, imam masjid, takmir masjid dan para beberapa tetua telah mengambil posisi di sfaf terdepan. Disini saya agak merasa aneh, ada sedikit keributan karena saya tidak sepenuhnya mengerti dengan bahasa yang  ucapkan. Kira-kira begini, ternyata ada beberapa tetua yang datang agak terlambat sehingga tidak dapat duduk di shaf depan.  Akhirnya beberapa jamaah anak-anak dipindah ke shaf belakang dan hampir saja pak Budi dan beberapa teman dipindah ke shaf belakangnya tapi seorang jamaah di sebelah saya melarangnya dan menyarankan untuk bergeser saja.  Beberapa tetua yang berada di shaf ke dua akhirnya maju untuk bergabung dengan para tetua lainnya. Hal ini pasti akan membingungkan bagi para pendatang tidak mengerti tradisi setempat. Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi kalau para tetua, panitia , takmir masjid datang lebih awal ada ada koordinasi sebelumnya. Menurut yang saya pahami siapa yang datang pertama ke masjid berhak untuk duduk di shaf yang terdepan.
Ada beberapa ritual sebelum sholat ied  dimulai yaitu pengumpulan sedekah atau mengisi kotak amal tapi disini dilakukan oleh dua orang yang membawa sorban masing-masing memegang ujung sorban dan berjalan di setiap shaf kemudian para jamaah memasukkan uang ke dalam sorban. Ada pula jamaah yang memberikan sedekah untuk pembawa sorban dengan mejejalkan beberapa lembar uang ribuan ke tangan pembawa sorban. Setelah selesai ada satu lagi sebelum sholat Id dimulai, ada empat orang berdiri di depan mimbar dengan membawa sapu tangan berwarna biru tua. Aku penasaran apa yang akan dilakukan mungkin membaca qamat secara bersamaan. Tapi tebakanku salah, ternyata mereka membacakan niat untuk sholat id sebanyak dua kali.
Tepat pukul 08;10 waktu setempat sholat id dimulai, dilanjutkan dengan khutbah sholat idul fitri.
==== 000 ====
Teriring salam dari seberang lautan, yang seharusnya saat ini duduk bersama merayakan hari kemenangan, hanya bisa menyampaikan sebait kata permintaan maaf atas kesalahan selama ini. Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir batin.
“SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H”
==== 000 ====

Satu Hari di Hari Raya (1)

  • i
Tidore, 18 Agustus 2012

Sabtu 18 Agustus 2012 adalah hari terakhir di bulan Ramadhan 1433 H. Libur lebaran sudah dimulai 17 Agustus karena bertepatan dengan peringatan HUT RI ke -67. Hari-hari terakhir bulan puasa biasanya lebih banyak di manfaatkan untuk perjalanan mudik lebaran, tapi tidak banyak kegiatan yang kami dilakukan di mes, sebagian menyebrang ke Ternate untuk sekedar jalan-jalan, sebagian memancing di tepi pelabuhan, sebagian tetap di mes dan aku sendiri menyelesaikan report-report yang dead line.
Sesuai rencana kami mendapat sebuah kepala sapi yang cukup besar dengan membeli dari teman local di sini. Pagi itu kami langsung berbagi tugas, sebagian menguliti kepala sapi mengambil dagingnya untuk di buat sate sisanya di masak krengsengan dan sayur sop. Saya, pak Yayan dan pak Budi meluncur ke Ternate untuk belanja sayur dan bumbu-bumbu, karena di pasar di Tidore sangat terbatas hanya hari-hari tertentu ada pasar buka.
Sebagian besar teman-teman sangat antusias untuk persiapan buka bersama. Pak Yayan jadi yang paling tersibuk sebagai master chef mulai dari persiapan bumbu sate bumbu sop sambal dan lain lain. . Sebagian menyiapkan bumbu, sebagian membakar sate sebagian memasak nasi. Pokoknya semuanya jadi chef handal hari ini.

Sesaat sebelum adzan magrib semua menu sudah siap. Ada sate sapi, oseng cingur, sayur sop, daun singkong lengkap dengan sambalnya. Minumnan  es buah pun tak ketinggalan yang biasa disiapkan bu Ida setiap berbuka puasa
Setelah menunggu beberapa saat, adzan magrib untuk daerah Tidore dan sekitarnya telah dikumandangkan. Semua sudah di posisi masing-masing tapi aku memilih untuk sholat magrib dulu dan kemudian langsung bergabung merapat di barisan. Langsung makan rame-rame dengan daun pisang.
Hmm… buka bersama terakhir dengan semua crew dan teman-teman di mes. Sejenak melupakan keinginan untuk pulang kampung yang didambakan setiap orang di saat hari kemenangan. 



17 Agu 2012

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H

  • i

Hidup Ibarat Kopi

  • i

Sekelompok alumni sebuah perguruan tinggi ternama, yang sekarang adalah para pimpinan perusahaan top, mengadakan sebuah nostalgia ke kampus mereka. Selain berkunjung ke kampus, mereka juga menemui profesor yang pernah menjadi guru mereka.
Dari senda gurau basa-basi, obrolan akhirnya mengerucut ke persoalan yang dihadapi sebagian besar dari mereka. Stres di tempat kerja dan juga di keluarga. Alih-alih menimpali keluhan para bekas muridnya, sang guru besar pergi ke dapur ruang kerjanya. "Saya bikinkan minuman dulu ya?"
Tak seberapa lama profesor pun keluar sembari membawa sebuah teko besar berisi kopi. Setelah meletakkan di meja tamu, ia kembali ke dapur. Kali ini ia membawa beragam cangkir yang lebih dari cukup untuk para tamunya. Gelas dan cangkir itu beragam bentuk. Ada yang bagus dan mahal, namun ada juga yang biasa dan bersahaja.
"Silakan ambil sendiri kopinya," kata profesor.
Ketika semua sudah memegang cangkir berisi kopi, profesor berkata, "Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang terlihat mahal dan bagus kalian ambil. Menyisakan cangkir-cangkir biasa yang murahan. Adalah normal bagi kalian untuk menginginkan yang terbaik bagi diri kalian. Dan itulah sumber persoalan dan stres kalian. Padahal, apa yang kalian inginkan sebenarnya kopi, bukan cangkir. Namun dengan sadar kalian ingin cangkir yang bagus dan membutakan diri terhadap cangkir yang jelek.
"Sekarang pertimbangkan hal ini: hidup adalah kopi, dan pekerjaan, uang, serta kedudukan dalam masyarakat adalah cangkir. Mereka hanyalah alat untuk menampung hidup. Dan itu tidak mengubah kualitas hidup itu sendiri. Terkadang, dengan memusatkan pikiran pada hanya satu cangkir, kita gagal menikmati kopi yang telah Tuhan berikan."
Maka, jangan sampai cangkir menyetir Anda, namun nikmatilah kopi. Sumber

Fokus Uang, Abai Keseharian

  • i

Seorang remaja sedang berjalan pulang dari sekolah ketika melihat satu sen baru mengkilap di tanah. Di berlari ke arah uang koin itu, dan memasukkannya ke dalam sakunya. Sepanjang perjalanan ia berseri-seri dengan bangga.
Ia berpikir dirinya anak yang paling beruntung di dunia. Ia merasa satu sen merupakan kekayaannya karena kejeliannya melihat lingkungan. Saking gembiranya ia pusing memimpikan semua harta yang mungkin ia temukan kemudian.
Sejak itu, setiap kali anak itu keluar ia berjalan dengan terus menunduk. Perhatiannya selalu fokus di jalanan dengan harapan menemukan uang. Lalu ia tumbuh menjadi dewasa dengan sibuk mencari uang.
Akhirnya, sepanjang hidupnya, ia menemukan selembar uang dolar, 2 setengah dolar, 40 sen, 19 sen, dan 352 sen, dan recehan-recehan lain.
Tetapi, selama kurun waktu yang sama ia telah melewatkan 35.127 kali matahari terbenam, 10 kali bintang jatuh, sekilas pemimpin dunia legendaris, bunga yang mekar sekali setiap 7 tahun, 20 layangan menari di udara, dan banyak orang yang menyebarkan kegembiraan dengan tersenyum.
Bukankah hal itu lebih berharga dari total $ 12,72? Anda setuju? Sumber

Uang Mengubah Segalanya

  • i

Ketika Rick Beyer berusia delapan tahun, ia menemani ibu dan neneknya berbelanja. Setelah itu, mereka berhenti di sebuah hotel mewah untuk makan siang. Beyer memesan steak, yang disajikan dengan kacang polong.
Beyer tidak suka kacang polong. Ia tidak pernah memakannya di setiap kesempatan atau di manapun mereka dilayani. Neneknya memperhatikan kalau ia menghindari kacang polong dan berkata, “Makanlah kacang polongmu.”
Ibunya menjawab, “Oh, biarkan saja. Ia tidak suka kacang polong.”
Namun neneknya tidak bisa membiarkan hal itu dan menawari sebuah kesepakatan, “Aku akan memberimu lima dolar jika kau makan semua kacang polongmu.”
Ibu Beyer benar-benar marah sekarang. Ia tidak pernah memaksa anaknya makan yang tidak ia sukai dan ia mungkin tidak menyukai campur tangan ibunya. Akan tetetapi untuk seorang anak kecil - yang tidak menyadari maksud orangtuanya - janji lima dolar melebihi keengganannya untuk makan sayuran tertentu. Beyer menerima suapan dari neneknya. Ia tersedak ketika menelan kacang polong hingga neneknya memelototinya, dan ibunya menatap mereka berdua.
Beberapa minggu kemudian, nenek Beyer mengunjungi anggota keluarga lain. Malam itu, ibu Beyer tetap menyajikan salah satu masakan favoritnya, yaitu roti daging dan kentang tumbuk. Ia juga menyediakan semangkuk besar kacang polong yang masih mengepul asapnya. Ia menyendok kacang polong ke dalam piringnya dan berkata, “Kemarin kamu memakannya untuk sejumlah uang. Sekarang, makanlah dengan cinta.” Kali ini tidak ada yang membela Beyer.
Moral dari cerita ini adalah: Jangan lakukan untuk uang, apa yang tidak kau lakukan dengan cinta. Tapi ada pelajaran lain yang sama pentingnya untuk dipelajari di sini dan itu adalah: Ibu selalu menang.
Hingga sekarang Beyer tetap bersumpah membenci kacang polong, tetapi ia tidak berani mengatakan apa-apa kepada ibunya ketika menyodorkan sepiring kacang polong. Sumber

Jika Yakin Benar, Jangan Goyah

  • i

Direktur Sekolah Atletik Dave Hart memberi kita contoh yang baik mengapa kita tidak boleh membiarkan keraguan dan tekanan teman sebaya mempengaruhi keyakinan yang kita ketahui benar.
Ketika Hart masih di sekolah dasar, ia dipanggil untuk memberikan jawaban di kelas. Setelah itu, guru beralih ke siswa lain dan bertanya ke mereka apakah jawaban Hart benar. Beberapa teman sekelas Hart setuju dengan jawabannya, sementara yang lain tidak.
Akhirnya, sebuah diskusi berlanjut. Guru membuat argumen terhadap jawaban Hart. Untuk siswa yang mendukungnya, guru menyarankan agar lebih banyak berpikir lagi mengenai jawabannya. Satu per satu, semua siswa yang semula setuju dengan jawaban Hart, mengubahnya.
Guru kemudian meminta Hart jika ia ingin mengubah jawabannya. Hart menolak.
Guru memancingnya lebih lanjut. “Semua orang di kelas mengatakan kalau jawabanmu salah,” bantah Guru. Hart tetap tidak mau menyerah.
Guru mengejutkan siswa kelas itu ketika selanjutnya ia mengatakan kepada mereka, bahwa jawaban Hart pada kenyataannya adalah benar. Pelajaran yang bisa diambil jelas: Lebih baik berdiri bertahan ketika tahu kau benar dan jangan takut dengan pendapat umum.
Inilah pelajaran yang tidak pernah dilupakan Hart – dan keteguhannya itu ia tularkan kepada siswa dan atlet yang bekerja dengannya. Ia mengatakan,” Saya pikir salah satu hal terpenting yang dapat kita lakukan dalam melatih para pemimpin muda adalah memuji mereka dan mendorong mereka ketika mereka membuat keputusan sulit dan menunjukkan keberanian untuk tidak mengikuti orang banyak.”  Sumber

Gagal? Jangan Menyerah!

  • i

Seorang lelaki berhenti dari ketergesaannya ketika melihat seekor gajah yang hanya diikat menggunakan tali kecil di kakinya. Ia sangat heran, betapa makhluk sebesar itu tak mampu melepaskan diri dari tali kecil itu. Padahal, dengan sekali sentak saja pasti tali itu putus. Namun entah mengapa gajah itu hanya berjalan sejauh tali itu terentang.
Tak jauh dari situ terlihat sang pawang gajah. Lelaki itu mendekati sang pawang dan bertanya, mengapa gajah itu hanya berdiri di situ dan tak berusaha untuk kabur.
"Ketika masih kecil, kami menggunakan tali yang sama untuk mengikat gajah itu. Pada saat itu ia meronta namun tali itu terlalu kuat untuk tenaga gajah yang masih kecil itu. Seiring bertambahnya umur, mereka sudah terkondisikan bahwa mereka tidak bisa melepaskan diri dari ikatan tali itu. Mereka percaya tali itu masih kuat seperti yang dulu. Oleh sebab itu mereka tidak pernah mencoba lagi melepaskan tali itu," kata sang pawang.
Lelaki itu takjub. Gajah itu secara nalar amat mudah melepaskan tali pengikat. Namun ia tidak melakukan hal itu karena masih terbelenggu oleh kepercayaannya akan tali yang kuat. 
Seperti gajah itu, berapa banyak dari kita yang terbelenggu oleh pemikiran bahwa kita tidak bisa memecahkan masalah yang menerpa kita? Seperti gajah, kita percaya bahwa masalah tak bisa diselesaikan hanya karena kita pernah mencobanya berkali-kali dan gagal.
Ingatlah, kegagalan adalah bagian dari pembelajaran. Kita harus pantang menyerah dalam menghadapi persoalan hidup. Sumber

Percaya Diri, Apa Pun Akan Tergapai

  • i

Pada tahun 1950-an, Evelyn Ryan adalah seorang ibu rumah tangga yang rajin. Ia pernah bekerja di koran lokal sampai ia mulai membangun sebuah keluarga. Secara keseluruhan, ia memiliki 10 anak. Dengan keluarga besar seperti itu, rasanya kebutuhan hidup tidak pernah tercukupi.
Sejak bekerja di luar rumah, waktunya tidak memungkinkan untuk merawat anak-anaknya. Ryan akhirnya menemukan cara untuk menyediakan waktu bagi mereka.
Pada masa itu, pengiklan mensponsori kontes untuk mempromosikan produk. Evelyn mengikuti kontes ini dengan harapan memenangkan hal-hal yang dibutuhkan keluarganya.
Ia selalu menyimpan tutup kemasan produk dan bukti pembelian. Evelyn menulis puisi, jingle, iklan promo, dan esai – apa pun yang diperlukan untuk mendapatkan hadiah utama. Dia menyimpan catatan rinci perusahaan yang menanggapi dan membuat kliping, yang berguna untuk menuliskan gagasannya.
Sepanjang tahun, Evelyn memenangkan peralatan besar dan kecil; dua mobil, dan cukup uang untuk digunakan sebagai uang muka rumah dan membayar hutang-hutang suaminya.
Tetapi, aspek yang paling luar biasa dari cerita Ryan ini adalah bukti bahwa Anda dapat mencapai apa pun ketika Anda percaya diri. Sumber

11 Agu 2012

Kakiku Juga Cuma Satu, Kawan

  • i
Di suatu kota tinggalah dua orang teman akrab bernama Bambang dan Tarjo. Bambang berbadan besar dan gendut. Sedangkan Tarjo berbadan sedang. Bambang tak dapat melihat dan Tarjo hanya punya satu kaki. Cepat sekali mereka berdua akrab ketika pertama kali bersua karena Tarjo tak pernah meledek  Bambang, begitu pula sebaliknya. Mereka saling mendukung, saling menghormati.
Suatu hari, Bambang meminta Tarjo menemaninya membeli celana. Karena tak ada penjual jasa menjahit pakaian, mereka terpaksa pergi ke toko walau tahu kemungkinan mendapat celana seukurannya tidak gampang.
Ketika sampai di toko pertama, Bambang bertanya kepada penjual di toko,”Apa di toko ini ada celana untuk ukuran saya?” Sambil menepuk-nepuk pahanya, ia menunjukkan kalau ukuran celananya yang luar biasa besar. Ia yakin tanpa melihat nomor celana pun si penjual pasti tahu ukuran celananya.
“Coba yang ini,” tawar si penjual. Bambang pun mencobanya  di ruang ganti dengan ditemani Tarjo.
“Tak muat kawan. Tak enak dilihat,” kata Tarjo sambil melihat sang kawan. Bambang kemudian meminta celana yang lebih besar kepada penjual.
“Maaf, itu sudah ukuran paling besar.” Si penjual tak menemukan lagi ukuran celana lebih besar dari celana tadi walau sudah mengubek-ubek seisi toko. Bambang kecewa. Ia lalu pergi ke toko berikutnya.
“Tak ada lagi yang lebih besar, Mas,” jawab si penjual kedua. Hhhh... Bambang menghela napas lagi. Mereka pun pergi ke penjual ketiga, keempat, kelima, sampai seluruh toko pakaian di seluruh kota mereka datangi. Tapi jawabannya sama.
Bambang dan Tarjo berjalan lemas, hendak pulang menuju rumah. “Kenapa mereka tak menjual juga celana dengan ukuran raksasa? Hah? Apa mereka pikir dunia hanya dipenuhi orang-orang ramping? Sial! Aku pikir hidup ini tak adil.” Bambang mengumpat sepanjang jalan. Sedari tadi Tarjo hanya diam.
“Kau ada saran bagus untukku, Jo?” tanya Bambang pada Tarjo.
”Sebenarnya aku ingin menawarkan sesuatu padamu,” Tarjo menjawab pertanyaan Bambang. Ia mengajaknya duduk sejenak.
“Jika mau, kau boleh saja mengambil sebagian bahan celanaku. Gunting saja bagian kaki kanannya, toh aku tak memerlukan itu. Kau tahu kakiku cuma satu kan? Ambil itu, lalu tambahkan ke celana kau yang sekarang agar sedikit lebih besar,” lanjut Tarjo.
Bambang tak menjawab. Ia teringat sahabatnya itu hanya punya kaki kiri.
“Apa kau pernah merasa hidup ini tak adil, Jo? Misalnya soal pakaian? ” Bambang bertanya lagi.
Tarjo diam sejenak. “Ya, dulu. Kenapa mereka tak menjual juga celana dengan satu kaki? Apa mereka pikir dunia hanya dipenuhi orang-orang berkaki dua? Tapi, siapa pula aku yang memaksa pemilik pabrik tekstil membuat celana berkaki satu? Kupikir ada hal-hal yang tak bisa kita paksakan berubah.
 “Sebaliknya, ada pula hal-hal yang bisa diubah, yaitu kita. Daripada merutuki panas terik, bukankah berteduh atau mengembangkan payung diatas kepala itu lebih baik?” Sumber